728x90 AdSpace

ARTIKEL BARU

25 May 2010

SUAMIKU TELAH TIADA....DAN KINI AKU SANGAT MENYESAL


SUAMIKU TELAH TIADA....DAN KINI AKU SANGAT MENYESAL

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Seorang suami yang kucintai yang kini telah tiada. Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku. Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku.

Suamiku adalah seorang kuat bekerja. Dia membina segala yang ada di keluarga ini dari tiada apa-apa hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringatkan suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan keadaan marah, tak ku berikan secawan teh hangat melainkan ku berikan muka dan perasaan yang marah.

Selalu ku katakan pada dia bahawa dia tak pedulikan padaku, tak mengerti aku dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi kini baru aku tahu....

Semua ucapanku selama ini salah dan hanya menjadi penyesalan buat ku kerana dia telah tiada.
Temannya ada mengatakan padaku bila bersama dengan mereka, dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rakan kerjanya.
Dia berkata, “ Setiap kali kami ajak dia minum pagi,  Anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya selalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mahu minum pagi, dia menjawab, “ Aku belum melihat isteriku minum pagi dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang, lalu bagaimana aku bisa minum pagi.” 
Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia seorang yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga, tapi suamimu adalah seorang pemimpin yang hebat. Selalu mampu menyelesaikan pelbagai masalah di kilang.”
Aku menahan air mataku kerana aku tak ingin menangis di depan rakan sekerja suamiku. Aku sedih kerana saat ini aku sudah kehilangan seorang yang hebat.



Teringat akan perasan marah pada suamiku, aku selalu mengatakan dia selalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada aku dan anak. Namun itu semua salah. Selepas suamiku tiada, aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi:

“ Perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Ku harap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Seorang yang akan menjadi pemimpin, seorang yang harus kuat menahan terjahan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”

Membaca itu, benar-benar baru ku sedari betapa suamiku menyayangi putraku. Betapa dia mempersiapkan masa depan putraku. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Selalu bila suamiku pulang dari kerja....

Dia selalu mengatakan, “ Ibu letih? Istirahat dulu saja”
Dengan kasar ku katakan, “ Ya jelas aku sangat letih, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang rumah sudah bersih.”

Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sambil tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi panasnya  sendiri. Padahal ku sedari. Beban dia sebagai ketua rumahtangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelefonnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah permergiannya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku:

“Pak kenapa cari klinik yang termurah? Saya rasa Encik mampu untuk berubat di tempat yang lebih mahal dan lebih memiliki kemudahan dan standard yang lebih baik.”
Dan suamiku menjawab, “ Tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja, aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mahu memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rosak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai isteriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut isteriku menyayangiku kerana kasihankan aku. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
ALLAH..Maafkan hamba, hamba tak mampu menjadi isteri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suamiku yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Kerana penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa lagi. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah pada suamimu yang senantiasa bekerja kuat untuk kesenangan keluarganya.

Banggalah pada suamimu, kerana ucapan terima kasih itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.

Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan yang lemah lembut. Kucup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat kerja di luar sana.

Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan sihat dan masih berada di depan matamu.
Dan bukan kembali dengan memejamkan mata untuk selama-lamanya.

Untuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri untukmu...
Putramu ini akan ku besarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi seorang yang hebat sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu...

Istrimu
Rina

sumber : email
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

4 comments:

  1. alahai.. sedihnya baca ni...sesungguhnya betapa besar pengorbanan seorang suami..

    ReplyDelete
  2. yes..
    that right.
    pengorbanan seorg lelaki yg bernama suami/ayah

    ReplyDelete
  3. moral:hargailah pasangan anda setiap masa.:-)

    ReplyDelete

Item Reviewed: SUAMIKU TELAH TIADA....DAN KINI AKU SANGAT MENYESAL Description: Rating: 5 Reviewed By: rahsia perkahwinan
Scroll to Top